Showing posts with label Menulis Buku. Show all posts
Showing posts with label Menulis Buku. Show all posts

Thursday, January 31, 2019

√ Menulis Untuk Melatih Kecerdikan Berpikir


"Mengapa aku menulis?"

Pertanyaan sederhana namun banyak jawabnya. Sekitar dua tahun ini aku lebih banyak menulis tema-tema yang ringan, bebas, dan bersahabat dengan dunia pengalaman yang sedang dihadapi. Tulisan-tulisan opini yang "njlimet" sedang berada di tepian jauh dari dunia aku kini.

Tema-tema goresan pena aku akhir-akhir ini memang hanya menyerupai itu adanya. Yang adanya goresan pena itu hanya untuk melatih tatanan berpikir saya. Yang tadinya bersifat abnormal kucoba untuk konkritkan dalam bentuk huruf, angka dan tanda baca.

Banyak hal yang abstrak, contohnya perasaan, emosi, pemikiran, dll. Hal-hal abnormal itu aku coba konkritkan dalam bentuk tulisan. Tulisan secara aneh menciptakan hal abnormal menjadi konkrit dan gampang untuk diraba.

Ketika diraba akan ketemu sebuah "kejanggalan" makna atau kebenaran alur logika pemikiran. Ketika makna janggal ditemukan, tinggal kita perbaiki premisnya. Kita tulis premis itu. Kita uji lagi satu premis dengan premis yang lain.

Ketika antar premis saling berkait dan padu lahirlah sebuah simpulan. Ketika kesimpulan lahir dengan metode yang tepat, terujilah alur logika kita sudah benar dan baik atau belum.

Kembali ke pertanyaan, mengapa menulis? Salah satunya untuk mengusut sekaligus melatih alur logika berpikir kita.

Eh muncul tanya lagi, "Ngapain susah-susah melatih logika?" Jawab singkatku, untuk menerka kemungkinan dan peluang masa depan dengan memperjelas masa kemudian dan menafsirkan masa kini.

"Ditulis 00.43 wib, Malam Selasa sehabis Hari Senin".
19 Februari 2019
Sumber http://rahmahuda.blogspot.com

Friday, January 4, 2019

√ Mengapa Harga Buku Bajakan Lebih Murah?


Buku original lebih mahal daripada buku bajakan. Buku original dibentuk melalui beberapa tahap. Tahap penulisan, penyuntingan, penataan layout, perancangan sampul buku, pengurusan ISBN, pencetakan, dan pemasaran.

Buku bajakan dapat sangat murah alasannya yaitu hanya melalui tahap pencetakan saja. Maklum jikalau harganya dapat hingga setengah dari buku original. Selain itu pada tahap pemasaran tidak ada royalti yang harus disisihkan untuk penulis dan penerbit.

Membeli buku bajakan tolong-menolong membunuh secara perlahan industri perbukuan kita. Tidak ada penghargaan bagi orang yang menulis buku. Penerbit pun kalah saing dengan pembajak alasannya yaitu banyak yang lebih menentukan buku bajakan yang harganya lebih murah.

Pembajakan buku dilakukan dengan cara meniru buku oleh pihak lain selain penerbit. Pembajakan dapat dilakukan oleh percetakan badung atau tukang foto copy pinggir jalan. Kini siapa saja dapat meniru buku mengingat teknologi percetakan semakin maju dan murah.

Pembajakan hanya dapat dilawan dengan dua cara. Satu, menindak tegas pelaku pembajakan buku. Dua, menyadarkan masyarakat untuk tidak membeli buku bajakan. Kitalah penyelamat dunia perbukuan kita. Siapa lagi jikalau bukan kita.

Sumber http://rahmahuda.blogspot.com

Thursday, January 3, 2019

√ Bagaimana Menerbitkan Buku Secara Murah?


Penerbitan buku secara indie sekarang menjadi pilhan bagi sebagian penulis. Penerbitan secara indie dilakukan dengan cara mengurus sendiri tahapan-tahapan penerbitan buku. Penerbitan secara indie lebih disukai sebab bukunya lebih cepat dan niscaya terbit.

Banyak penerbit menanggapi demam isu penerbitan secara indie ini dengan menyajikan beberapa paket penerbitan. Fasilitas yang di sanggup pun bervariasi. Begitu pula dengan harga per paket penerbitan yang berbeda-beda.

Ada cara menerbitkan buku dengan murah. Syaratnya penulis harus mempunyai beberapa akomodasi berikut PC/ Laptop; Desain grafis untuk perancangan sampul; Self-editing; Penerbit yang mau menguruskan ISBN; dan percetakan.

1. PC/ Laptop
PC  atau laptop dipakai untuk proses pengetikan dan layout buku. Pengolahan kata dan layout sanggup memakai microsoft word atau adobe inDesign. Penulis pemula disarankan memakai salah satu dari dua pilihan perangkat lunak pengolah kata tersebut.


Biasanya lebih banyak yang menentukan Microsoft Word sebab lebih familier. Adobe inDesign seringkali dipakai oleh tukang layout profesional. Bila tidak menguasai adobe inDesign tidak perlu khawatir. Karena Microsoft Word sudah cukup mumpuni untuk dipakai melayout.

2. Desain grafis untuk perancangan sampul
Perancangan sampul sanggup juga memakai Microft Word, namun kekurangannya yakni tidak sanggup dieksport ke format jpeg, png, atau format gambar pada umumnya. Solusinya sanggup memakai Corel Draw atau canva (dot)com.


Corel draw yakni perangkat lunak untuk memenuhi segala kebutuhan desain grafis. Pembuatan desain grafis melalui corel semuanya dilakukan secara manual. Oleh akhirnya kreatifitas dan penguasaan terhadap hidangan di Corel Draw sangat menentukan hasil desain sampul kita.
Canva menjadi alternatif yang tepat. Canva menyediakan ribuan template desain sampul buku. Isi atau kepingan dalam template ini yang nantinya sanggup kita ganti-ganti sesuai kebutuhan.

Kekurangan penggunaan canva yakni peluang ditemukannya desain buku yang seakan-akan tergolong besar dan resolusi hasil desain di versi gratisan tergolong sangat kecil. Kemiripan desain dengan buku lain mungkin saja terjadi sebab adanya penggunaan template yang sama.

Resolusi gambar hasil unduhan versi gratis tidak mendukung untuk dicetak. Ukuran pixel yang terlalu kecil menciptakan hasil cetakkannya tidak detail. Parahnya gambar hasil cetakannya akan berbentuk kotak-kotak yang cukup besar.

Solusi pembuatan sampul gotong royong sanggup memadukan canva dengan corel draw. Canva kita gunakan untuk mencari ide cover buku. Corel draw selanjutnya dipakai untuk menciptakan desain buku sesuai dengan ide yang diperoleh dalam template canva. Sehingga hasil desainnya tidak beresolusi kecil.

3. Self-editing
Self editing diartikan sebagai swa-sunting. Penyuntingan gotong royong sanggup dipelajari. Para penulis yang melaksanakan swa-sunting sanggup memakai Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) sebagai referensi dalam pembetulan tulisan. Tipsnya self editing dilakukan saat proses penulisan sudah selesai. Hendaknya ada jeda antara final penulisan dan swa sunting semoga ada kejernihan berpikir.


4. Penerbit yang mau menguruskan ISBN
International Serial Book Number (ISBN) penting sebagai identitas buku. Adanya ISBN menciptakan buku mempunyai identitas yang jelas. Selain itu ISBN memudahkan para pembaca untuk mencarinya di toko buku. Kemudahan dalam mencari ini sanggup diperoleh sebab ISBN ini unik dan berbeda antara satu buku dengan buku lainnya.


ISBN hanya sanggup diperoleh melalui pihak-pihak yang sudah terdaftar di perpusnas. ISBN sekarang hanya sanggup diusulkan oleh penerbit yang telah mempunyai sertifikat notaris dan forum yang telah berbadan hukum. Oleh akhirnya kita harus berakal berkomunikasi dengan penerbit atau lembaga. Tujuannya semoga mereka mau membantu kita dalam pengurusan  ISBN.

5. Percetakan
Percetakan juga menentukan harga buku. Banyak percetakan yang sekarang menyediakan jasa cetak buku. Bahkan tukang foto copy pun mengatakan jasa yang sama dengan harga yang sangat kompetitif. Ada beberapa hal yang patut dipertimbangkan dalam menentukan percetakan, antara lain:
a. Harga terjangkau
b. Praktis diajak berkomunikasi
c. Kualitas cetak mumpuni (Kejelasan hasil cetak mulai dari cover hingga isi halaman)
d. Percetakan mau memperhatikan MoU/ janji yang telah disetujui bersama pelanggan
e. Penyelesaian order pencetakan dilakukan secara sempurna waktu


Itulah tips semoga kita sanggup menerbitkan buku secara murah dan tetap berkualitas. Kunci murah tidaknya penerbitan buku lebih pada tahapan-tahapan penerbitan yang dilakukan sendiri. Memang terkesan merepotkan, tapi kerepotan ini akan terbayar saat melihat orang lain membaca buku kita.

Sumber http://rahmahuda.blogspot.com

Friday, December 28, 2018

√ Fokus Hal Faktual Dengan Gratitude Journal (Jurnal Kesyukuran)

Gratitude journal yakni sebuah catatan harian yang berisi hal-hal yang menyenangkan dan patut disyukuri oleh seseorang dalam kurun waktu tertentu. Gratitude journal dalam bahasa Indonesia sering diartikan dengan istilah jurnal kesyukuran. Gratitude journal umumnya ditulis dalam bentuk daftar dan esai.

Setiap orang bekerjsama perlu menciptakan gratitude journal. Selain itu gratitude journal berkhasiat untuk catatan faktual bagi setiap orang. Mengingat umumnya insan cenderung berpikir negatif dan kurang bersyukur atas apa yang dianugerahkan kepadanya.

Gratitude journal menjadi alternatif bagi setiap orang semoga senantiasa berpikiran positif. Gratitude journal membantu seseorang untuk fokus pada hal-hal faktual yang menciptakan dirinya senang dan bahagia. Fokus pada hal faktual akan mengesampingkan hal-hal negatif yang telah atau akan terjadi. Gratitude journal pada hasilnya membantu seseorang untuk tidak terjebak pada kesedihan yang berkepanjangan.
Gratitude journal bisa ditulis kapan saja. Tidak ada waktu ideal yang dianjurkan. Hanya saja waktu penulisan gratitude journal disarankan sesuai dengan "mood" untuk menulis. Biasanya gratitude journal seringkali dibentuk sehari sekali untuk mengetahui hal-hal faktual yang patut disyukuri. Sebagai pola ada orang yang suka menulis gratitude journal sebelum tidur. Pertimbangannya semoga ia bisa mensyukuri pencapaian yang diperolehnya hari ini sebelum ditutup dengan istirahat.

Ada juga orang yang tidak suka waktu penulisan sebelum tidur. Biasanya mereka lebih senang memakai penghujung hari untuk eksklusif beristirahat. Oleh karenanya, mereka lebih suka menulis gratitude journal pagi harinya sebelum beraktifitas. Menulis gratitude journal di pagi hari terbukti bisa memunculkan semangat faktual sebelum memulai beraktifitas. Makara waktu penulisan lebih menyesuaikan dengan keadaan masing-masing.

Gratitude journal bisa ditulis di aneka macam macam media penulisan. Bisa memakai secarik kertas, buku atau secara digital. Penulisan gratitude journal secara digital bisa memakai aneka macam aplikasi "gratitude journal" yang ada di playstore. Bisa juga diposting melalui blog atau timeline media umum yang dimiliki. Hanya saja jika menulis di blog atau timeline media umum harus sesuai dengan watak digital. Karena unggahan dalam blog dan media umum sanggup diakses oleh siapa saja.
Gratitude journal yang ditulis memakai pola daftar biasanya dibentuk dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Jawab pertanyaan "Sebutkan minimal tiga hal yang membuatmu senang hari ini?"
2. Tuliskan balasan pertanyaan di atas di media penulisan yang telah dipilih. Biasanya balasan tersebut hanya ditulis dalam bentuk daftar dimana setiap baris hanya berisi satu kalimat.

Gratitude journal bisa juga ditulis dalam bentuk esai. Cara penulisannya adalah:
1. Buat pertanyaan wacana hal apa saja yang perlu disyukuri hari ini.
2. Hal-hal yang perlu disyukuri tersebut kemudian diuraikan dalam bentuk paragraf.
3. Paragraf-paragraf tersebut bisa memuat rentetan tragedi mengapa "hal yang perlu disyukuri" itu terjadi. Atau bisa juga mengenai analisis dan deskripsi lanjutan wacana hal yang patut disyukuri tersebut.

Akhir kata, gratitude journal sanggup membantu setiap orang untuk berpikir positif. Utamanya sebagai pengingat semoga seseorang senantiasa besyukur atas pencapaian yang diraih. Waktu dan bentuk penulisan gratitude journal menyesuaikan keadaan si pembuat. Gratitude journal berbentuk daftar sanggup menjadi pilihan bagi orang yang sibuk. Gratitude journal berbentuk esai sanggup dipilih untuk menceritakan hal-hal yang benar-benar berkesan.

Dibuat sesudah shalat tarawih terakhir di bulan Ramadhan 1440 H, 3 Juni 2019.

Sumber http://rahmahuda.blogspot.com

Wednesday, December 19, 2018

√ Empat Unsur Yang Harus Ada Di Kover Buku Berdasarkan Bambang Trim

Kover (kata serapan dari Cover) ialah bab penting sebuah buku. Kover buku menjadi perwajahan yang mencerminkan isi dari sebuah buku. Kover sanggup memotivasi calon pembaca saat dikemas dengan menarik, apik, dan sesuai dengan ketentuan.

Oleh karenanya, kover tidak sanggup dibentuk dengan asal-asalan. Apalagi bila asal jadi. Desain yang tidak optimal tentu mengurangi nilai jual buku. Ingat, menulis naskah buku membutuhkan kemauan dan kerja keras yang sangat tinggi. Sehingga perlu diketahui apa saja yang harus ada di dalam kover buku itu.

Bambang Trim (2017), dalam bukunya yang berjudul 200+ Solusi Editing Naskah dan Penerbitan menjelaskan bahwa kover depan harus memuat:

1. Nama penulis
2. Judul utama atau induk judul
3. Subjudul atau anak judul; dan
4. logo/ nama penerbit.

Ada ketentuan tidak tertulis bahwa penulisan nama di kover tidak perlu mencantumkan gelar. Namun tidak ada salahnya juga bila seorang penulis menuliskan gelar akademiknya. Hal ini semata untuk menambah keyakinan pembaca akan integritas dan bidang keilmuan penulis sesuai dengan bidang yang ditulis.

Kover juga sanggup dihiasi dengan gambar visual. Gambar visual sanggup berupa foto, ilustrasi, atau kartun. Bila terpaksa mengambil dari internet, sumber gambar tersebut hendaknya dicantumkan di Halaman Keterangan Penerbit atau imprint.

Demikian hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan kover buku. Kover menjadi hal penting dalam meningkatkan ketertarikan. Optimalkan kover buku, ciptakan ketertarikan calon pembaca!



Sumber http://rahmahuda.blogspot.com

Monday, December 17, 2018

Bangsa Indonesia Mempunyai Budaya Tutur Yang Baik

Bangsa Indonesia mempunyai budaya tutur yang baik. Dibuktikan dengan banyaknya jenis bahasa kawasan yang ada di Indonesia. Hal ini menjadi modal yang baik untuk berbagi keterampilan berbahasa.

Dulu sering kita jumpai "kumpul-kumpul" warga. Kebiasaan berkumpul yang sering diisi dengan percakapan antar warga ini terjadi di warung-warung kopi, angkringan, pasar-pasar, dan tempat-tempat lainnya. Kumpul-kumpul juga terjadi di depan tungku kompor bagi sebagian masyarakat dataran tinggi di Jawa Tengah.

Isi percakapan pun sangat beragam. Mulai dari hal ringan hingga yang rumit. Hal tersebut dapat berupa gosip, isu, bahkan ilmu pengetahuan. Terkait ilmu pengetahuan lebih banyak terjadi di sekolah atau kampus. Dunia pendidikan memfasilitasi obrolan dalam bentuk workshop, seminar, atau debat publik.
Membawa Budaya Tutur ke Budaya Menulis
Budaya tutur menjadi modal nyata dalam pengembangan keterampilan menulis. Isi goresan pena dan target pembaca pun telah tersedia menyerupai pada budaya percakapan. Isi goresan pena pun kurang lebih sama menyerupai isi percakapan sehari-hari.

Hasil goresan pena sekarang dapat dimuat di media umum atau website. Tidak menyerupai dulu, produk goresan pena hanya dapat disalurkan melalui media massa. Keterbatasan ruang media massa mempersempit kesempatan dimuat. Pemuatan hasil goresan pena ini membuka ruang obrolan baik di media massa cetak maupun digital.

Media digital sebagai hasil kemajuan teknologi membawa keberuntungan sekaligus kekurangan. Percakapan atau perbincangan yang tadinya harus bertemu secara tatap muka sekarang beralih di ruang-ruang digital. Percakapan dan obrolan dapat terjadi dimana saja dan kapan saja.

Ruang digital juga mempunyai kekurangan. Ketiadaan kesempatan untuk bertatap muka sering kali menghadirkan akun palsu. Akun palsu itu sering dipakai untuk menyebar gosip bohong yang berpotensi memecah belah masyarakat.

Budaya menulis pun memperlihatkan imbas nyata biar "percakapan" yang berada di masyarakat dapat bertahan lebih lama. Bahkan "abadi" tidak lekang waktu. Sifat budaya tulis yang dapat terekam dalam jejak digital dan gampang diakses siapa saja. Selain itu menulis melatih seseorang dalam menata logika berpikir.

Semua itu berbeda dengan budaya tutur yang secara tradisional sifatnya sementara. Hanya bertahan seiring bergetarnya udara sebagai bentuk sumber suara. Percakapan pun terkesan lebih gampang alasannya ialah dapat hanya "asal" bersuara saja. Yuk kembangkan budaya menulis!

Sumber http://rahmahuda.blogspot.com

Sunday, December 16, 2018

√ Guru Juga Butuh Isbn, Apa Itu Isbn?

ISBN ialah nomor unik berstandar internasional yang dibentuk untuk pengidentifikasian buku. ISBN yang diwujudkan dalam 13 angka ini penting dalam pengembangan profesi guru. Hal ini dibuktikan dalam dokumen "Buku 4 Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan."

Buku 4 secara umum menjelaskan bahwa ISBN harus menempel pada beberapa karya guru untuk dinilaikan dalam angka kredit. Karya guru yang mencantumkan ISBN menerima angka kredit lebih tinggi jikalau dibandingkan karya yang tidak ber-ISBN. Karya tersebut antara lain buku pelajaran, buku dengan tema pendidikan, dan buku karya sastra.

Berdasarkan uraian di atas, perlu diuraikan dengan singkat hal-hal yang berkaitan dengan ISBN. ISBN menyerupai yang dijelaskan di atas merupakan formasi angka yang dipakai untuk mengidentifikasi sebuah buku. Kode ISBN bersifat unik sebab satu ISBN hanya untuk satu buku. ISBN sebetulnya memuat isyarat negara, isyarat penerbit dan isyarat judul buku.

ISBN diberikan oleh "International ISBN Agency" yang berpusat di London, Inggris. Pemberian ISBN sanggup melalui perwakilan forum ISBN di setiap negara. Perwakilan forum ISBN di Indonesia ialah Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
Masyarakat Indonesia sanggup meminta ISBN melalui Perpusnas. Namun terdapat mekanisme dimana Perpusnas bersedia menerbitkan ISBN. Salah satu di antaranya permohonan ISBN harus diusulkan ke Perpusnas melalui forum berbadan hukum. Salah satunya melalui perjuangan penerbitan yang berbadan aturan berbentuk CV atau PT. Adapun waktu proses penerbitan ISBN ialah lima hari kerja sesuai dengan hari kerja Perpusnas RI.

Penerbit Elaku telah menerima izin dari Perpusnas untuk mengusulkan ISBN. Perlu juga diketahui bahwa Penerbit Elaku berbadan aturan berbentuk CV dengan nama CV. Elaku Sukses Berkemajuan. Status validasi penerbit yang sanggup memohonkan ISBN sanggup dilihat melalui status validasi penerbit online di laman isbn.perpusnas.go.id.

Fungsi ISBN secara umum dalam arti di luar konteks buku 4 adalah:
1. Menjadi identitas satu judul buku yang diterbitkan
2. Memudahkan dalam pemesanan buku
3. Menjadi promosi bagi penulis dan penerbit sebab warta yang terkandung dalam ISBN terindeks dalam Badan Nasional ISBN Indonesia di Jakarta, maupun Badan Internasional yang berkedudukan di London

Perpusnas RI menjelaskan bahwa terdapat sepuluh jenis terbitan yang sanggup diberikan ISBN, yaitu:

  1. Buku tercetak (monografi) dan pamphlet
  2. Terbitan Braille
  3. Buku peta
  4. Film, video, dan transparansi yang bersifat edukatif
  5. Audiobooks pada kaset, CD, atau DVD
  6. Terbitan elektronik (misalnya machine-readable tapes, disket, CD-ROM dan publikasi di Internet)
  7. Salinan digital dari cetakan monograf
  8. Terbitan microform
  9. Software edukatif
  10. Mixed-media publications yang mengandung teks


Ada pula terbitan yang tidak sanggup diberikan ISBN, antara lain:

  1. Terbitan yang terbit secara tetap (majalah, bulletin, dsb.)
  2. Iklan
  3. Printed music
  4. Dokumen langsung (seperti biodata atau profil personal elektronik)
  5. Kartu ucapan
  6. Rekaman musik
  7. Software selain untuk edukasi termasuk game
  8. Buletin elektronik
  9. Surat elektronik
  10. Permainan

ISBN Diberikan Secara Gratis
Perpusnas RI tidak mengenakan biaya apapun dalam proteksi nomor ISBN. Hanya saja Perpusnas RI mewajibkan setiap penerbit untuk mengirimkan buku yang telah diberi ISBN ke Perpusnas RI sebanyak 2 buah dan Perpustakaan Provinsi sebanyak 1 buah. Ketentuan ini didasarkan pada  Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1990 perihal Serah-Simpan Karya Cetak Dan Karya Rekam (Pasal 2).

Keberadaan undang-undang di atas menciptakan penerbit memasang tarif dalam penerbitan buku. Penerbit sekarang banyak menciptakan paket biaya penerbitan bukan untuk membayar ISBN. Namun untuk mengganti biaya cetak buku yang harus diserahkan ke Perpusnas RI dan Perpustakaan Provinsi. Selain itu penerbit juga harus membiayai jasa pembuatan sampul buku, editing dan layout. Belum lagi adanya ketentuan penerbit harus membayar pajak atas buku yang terjual.

Penerbit Elaku bangkit dalam rangka memfasilitasi guru atau penulis lainnya untuk memperoleh ISBN. Sehingga biaya penerbitan di Penerbit Elaku tergolong murah, hanya bermodalkan Rp 180.000, buku karya penulis mempunyai ISBN. Mari terbitkan mimpimu bersama Penerbit Elaku!

Sumber http://rahmahuda.blogspot.com

√ Menulis, Cara Katarsis Yang Terbaik

Emosi insan sering berubah. Perubahan emosi disebabkan banyak hal. Bila dilihat dari sumbernya, perubahan emosi berasal dari  dalam dan luar diri manusia. Perubahan emosi dari dalam diri sanggup berupa perasaan tidak puas dan serba kurang.

Emosi negatif yang berasal dari luar diri biasanya dipicu dari hal hal yang tidak sanggup dikendalikan. Kemacetan, cuaca buruk, dan tindakan orang lain menjadi pola pemicu emosi dari luar diri manusia. Walau emosi negatif dari luar hasilnya ditentukan emosi yang ada di dalam diri. Karena bagaimanapun yang memilih emosi seseorang ialah dirinya sendiri.

Perubahan emosi merupakan hal yang wajar. Perubahan emosi menjadi hal yang tidak masuk akal saat berimbas negatif pada kehidupan seseorang. Hal negatif itu berupa gangguan dalam menjalin relasi dengan orang lain dan rusaknya barang atau benda di sekitar.

Kerusakan-kerusakan tersebut berasal dari pelampiasan emosi yang tidak tepat. Emosi negatif sering disalurkan dengan ujaran berupa umpatan kotor atau ucapan yang tidak etis. Ujaran ini sanggup berupa ucapan eksklusif ataupun dalam bentuk goresan pena status di media sosial. Selain itu, emosi negatif juga merugikan saat diiringi perusakan barang dengan cara dilempar, ditendang, atau dibanting.

Sekali lagi, semua cara di atas bukan teknik pelampiasan emosi yang tepat. Seseorang sanggup melampiaskan emosi secara positif. Cara pelampiasan yang benar dalam dunia psikologi disebut katarsis. Istilah katarsis diawali dari pendapat filsuf Yunani, sokrates. Kemudian dipopulerkan oleh Sigmund Freud, hebat psikoanalisa.

Katarsis secara istilah diartikan dengan pemurnian atau pencucian jiwa. Pembersihan jiwa dengan meluapkan emosi ke akses yang tepat. Terdapat banyak cara dalam melaksanakan katarsis, antara lain menulis, berolahraga atau bermain teater. Namun, teknik katarsis yang direkomendasikan ialah menulis.

Menulis tidak memerlukan biaya yang tinggi. Menulis sanggup dilakukan dimana saja kapan saja. Olahraga kadang memerlukan waktu luang yang longgar dan peralatan olahraga yang tidak murah. Begitu juga bermain teater seringkali membutuhkan rekan yang sesuai.

Menulis untuk katarsis dilakukan dengan cara mengungkapkan sebab-sebab emosi negatif terjadi. Kemudian menceritakan tindakan yang telah dilakukan saat emosi negatif terjadi. Bahkan paska emosi negatif terluapkan juga perlu diuraikan dalam bentuk tulisan.

Biasanya sehabis goresan pena selesai dan dibaca ulang, akan ditemukan sebuah penilaian bahwa tindakan dalam menanggapi emosi negatif sudah sempurna atau belum. Disini menulis berfungsi ganda selain sebagai katarsis juga sebagai media untuk penilaian diri.

Penjabaran ihwal penilaian diri perlu ditambahkan dalam goresan pena katarsis sebagai bentuk solusi atas emosi negatif. Evaluasi ini menjadi bekal menghadapi masa depan. Diharapkan tidak terjadi lagi pelampiasan emosi secara negatif sebab-sebab teridentifikasi. Renungkan goresan pena kita, latih diri menghadapi aneka macam kesulitan dan tantangan. Karena akal lahir dari pengalaman.

Sumber http://rahmahuda.blogspot.com

Saturday, December 15, 2018

√ Meragukan Isbn Palsu

Seseorang bercerita bahwa ia pernah membayar uang sekian juta untuk memperoleh ISBN. Kejadian yang menimpa seorang guru ini terjadi beberapa tahun yang kemudian dikala ia ingin menerbitkan karya bukunya. Dia menitipkan naskah buku ini kepada seorang teman. Ia berharap temannya ini sanggup memfasilitasi biar ISBN tersemat di bukunya.

Ibu guru ini hasilnya memperoleh buku cetak hasil tulisannya. Guru yang bekerja di sebuah Sekolah Menengah Pertama ini semakin senang alasannya yakni di sampul belakang telah terpampang barcode ISBN. Begitu pula di halaman balik judul, isyarat ISBN juga tertulis di bawah nama pengarang. Kebahagiaannya semakin menjadi dikala bayangan buku ber-ISBN ini ia olok-olokan untuk evaluasi angka kredit.

Namun, sayang seribu sayang, buku ber-ISBN ini ditolak oleh tim penilai angka kredit. Tim penilai angka kredit beropini bahwa ISBN ini palsu. Ibu Guru pun terkaget-kaget mendengar pernyataan ini. Bagaimana tidak, jutaan rupiah telah ia gelontorkan demi 13 digit nomor ini.

Tim PAK ternyata mengusut nomor ISBN yang terpampang dengan cara memasukkannya ke portal isbn.perpusnas.go.id. Nomor ISBN ini tidak ditemukan. Padahal kalau ISBN ini resmi dan valid, otomatis sanggup diperiksa melalui portal yang dikelola eksklusif oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia ini.

Singkat kata, Ibu Guru ini tertipu modus pengurusan ISBN. Sang ibu guru juga tidak mengusut nomor ISBN yang terpampang di bukunya ini di portal miliki perpusnas. Nasi telah jadi bubur, buku yang ditulis dengan penuh uraian keringat dan pikiran ini berakhir kena tipu.

Setiap penulis hendaknya waspada terhadap modus yang mengatas namakan pengurusan ISBN. ISBN diberikan Perpusnas secara cuma-cuma. Pilih penerbit atau penyedia jasa yang mempunyai track record dan reputasi yang baik. Jangan lupa mengusut nomor ISBN di portal isbn.perpusnas.go.id. Semoga kejadian ibu guru ini menjadi kejadian terakhir yang memakai ISBN sebagai modus penipuan! Aamiin!

Sumber http://rahmahuda.blogspot.com

√ Setiap Buku Dapat Dimintakan Isbn, Asalkan ...

Setiap kali berdiskusi wacana penulisan buku niscaya ada pertanyaan yang sering muncul. Terutama berkaitan dengan ISBN. ISBN menjadi begitu sering dibicarakan alasannya yaitu menjadi syarat adminstratif bagi pengajuan angka kredit pada beberapa profesi. Sehingga pertanyaan yang sering muncul yaitu "Apakah saat mengajukan ISBN ada syarat khusus berkaitan dengan isi buku?"

Jawaban di atas bahwasanya sangat tergantung kebijakan masing-masing penerbit. Pengajuan ISBN sepenuhnya menjadi tanggung jawab penerbit. Singkat jawaban, buku dapat memperoleh ISBN selama diusulkan oleh penerbit atau forum yang diakui untuk mengajukan ISBN.

Setiap penerbit mempunyai kriteria tertentu untuk mengusulkan ISBN pada setiap buku. Penerbit yang mempunyai visi menerbitkan buku tema pertanian tentu akan menolak bila diminta untuk memohonkan ISBN untuk buku bertemakan filsafat. Sehingga berkaitan dengan isi buku apakah ada syarat khusus untuk memperoleh ISBN, jawabannya relatif, tergantung penerbit.

Akan tetapi ada pemahaman umum bahwa penerbit mau menerbitkan buku alias mengusulkan ISBN jika:
1. Buku tidak berisi ujaran kebencian terutama menyangkut Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (SARA).
2. Tidak berpotensi menyebabkan konflik horisontal atau perpecahan bangsa.
3. Buku yang akan diterbitkan tidak melanggar etika akademik atau terindikasi plagiarisme.
4. Buku hasil terjemahan harus mengantongi surat izin dari penulis atau penerbit aslinya.
5. Buku yang hendak dimintakan ISBN, hendaknya bukan merupakan buku yang isinya bertentangan dengan peraturan perundangan-undangan yang berlaku.

Demikian hal-hal yang patut diketahui bila ingin memohonkan ISBN pada buku yang ditulis. Jangan hingga kita keliru menentukan penerbit. Pilih penerbit yang mempunyai visi yang sama dengan tema yang ada dalam buku yang akan diterbitkan. Perhatikan juga hal-hal di atas. Memang diterbitkan atau tidaknya sebuah buku cenderung ditentukan pada nilai moral yang berlaku di masyarakat.

Sumber http://rahmahuda.blogspot.com

Friday, December 14, 2018

√ Usang Pengajuan Isbn Sebuah Buku

Proses penerbitan ISBN memerlukan waktu maksimal lima hari kerja. Hari kerja yang dimaksud mengikuti hari kerja yang ada di Perpusnas. Perpusnas menerapkan sistem lima hari kerja. Hari kerja Perpusnas berawal dari hari Senin hingga Jumat.

Berdasarkan pengalaman, penerbit yang mengajukan permohonan ISBN hari Senin maka ISBN akan terbit maksimal hari Selasa ahad depan. Portal ISBN Perpusnas sesungguhnya telah mengatur sistem penerbitan ISBN ini dengan sangat bagus. Portal ini menawarkan tanggal kapan penerbit mengajukan permohonan ISBN ini.

ISBN sanggup juga terbit lebih usang dari yang ditetapkan. Biasanya disebabkan lantaran hambatan teknis pada sistem. Selain itu tidak perlu khawatir lantaran sistem menerbitkan ISBN sesuai dengan daftar antrian yang telah terindeks pada portal ISBN Perpusnas.

Perlu juga diketahui bahwa Perpusnas menerapkan ketentuan bahwa penerbit hanya berhak mengajukan ISBN maksimal 10 judul per hari. Bila penerbit mempunyai buku yang dimintakan ISBN lebih dari 10, maka sisa kelebihan 1o itu sanggup dimintakan di hari berikutnya. Pembatasan judul buku yang dimintakan ISBN ini juga menjadi penyebab kenapa pemerolehan ISBN lebih usang dari yang diharapkan.

Sumber http://rahmahuda.blogspot.com

Thursday, December 13, 2018

√ Pengalaman Dan Pengamatan Jadi Modal Bagi Penulis

Penulis pemula sering mengeluh sebab galau bagaimana caranya mendapat wangsit untuk menulis. Sebenarnya caranya cukup mudah, adalah menulis sesuatu yang erat dengan penulis tersebut. Penulis pemula hendaknya menghindari menulis sesuatu yang tidak dikuasainya atau jauh dari kehidupannya.

Tema goresan pena penulis pemula hendaknya dimulai dengan menulis dari hal yang erat gres kemudian lanjut menulis hal yang jauh dari dirinya. Mulai hal yang positif gres kemudian menulis yang abstrak. Hal ini untuk menghindari kebuntuan wangsit saat tengah menulis. Menulis dari hal yang erat ini secara konkrit dijabarkan dalam acara 3P, adalah pengalaman, pengamatan, dan pengemasan.
1. Pengalaman
Hal yang dialami secara eksklusif tentu lebih gampang diceritakan. Seseorang lebih gampang menulis pengalaman sebab mencicipi eksklusif insiden yang nantinya menjadi materi tulisan. Penulis pemula sanggup menceritakan perasaannya saat mengalami sebuah peristiwa/ pengalaman. Selain itu, penulis juga mengetahui proses dari sebelum, selama dan sehabis pengalaman terjadi. Otomatis goresan pena yang dihasilkan cukup panjang. Tulisan panjang menjadi modal awal supaya lebih percaya diri dalam menulis.

2. Pengamatan
Penulis pemula kalau tidak berminat menuliskan pengalamannya, sanggup melaksanakan pengamatan terhadap apa yang ingin ditulis. Pengamatan sanggup dilakukan melalui membaca buku, menonton film, mengamati keadaan sekitar termasuk orang-orang di sekitarnya. Bahkan tulisan-tulisan menggelitik di belakang kolam truk sanggup menjadi wangsit dalam menulis. Penulis dalam tulisannya sanggup menceritakan terlebih dahulu apa yang sedang diamati. Baru kemudian memberitakan tanggapannya terhadap apa yang diamati. Tanggapan ini sanggup diberi ruh semoga lebih berbobot dengan mencarikan pendapat atau teori dari pihak lain terhadap hal yang sedang diamati.

3. Pengemasan
Pengemasan goresan pena dilakukan sehabis proses penulisan pengalaman atau pengamatan telah selesai. Tulisan awal itu kemudian dibaca kembali. Temukan hal-hal yang perlu dipertahankan dan/ atau dihilangkan. Ganti kata atau kalimat yang balasannya terlalu biasa dengan padanan kata yang lebih menggugah emosi pembaca. Bila menyangkut goresan pena fiksi sanggup ditambahkan goresan pena yang berisi deskripsi perihal suasana yang sedang diceritakan. Bila goresan pena non-fiksi, sanggup dikemas dalam bentuk gaya bahasa yang baku dan ilmiah. Judul pun perlu dibentuk unik. Judul menjadi penentu apakah goresan pena ini sanggup menarik pembaca.

Simpulannya, wangsit goresan pena penulis pemula hendaknya berasal dari hal yang dekat. Caranya diperoleh melalui pengalaman dan pengamatan. Ide dari pengalaman dan pengamatan itu kemudian dituliskan secara bebas terlebih dahulu.

Dalam fase ini disarankan semoga penulis pemula tidak berhitung apakah tulisannya sudah benar atau belum. Sudah indah atau buruk. Baru sehabis jadi goresan pena lengkap, gres kemudian dilakukan penyuntingan. Proses penyuntingan menjadi salah satu bentuk pengemasan. Pengemasan yang mengedepankan emosi pembaca dan goresan pena yang unik tentu menarik pembaca. Pembaca akan membaca goresan pena penulis sampai tuntas.

Sumber http://rahmahuda.blogspot.com