Showing posts with label Gratitude. Show all posts
Showing posts with label Gratitude. Show all posts

Friday, December 28, 2018

√ Fokus Hal Faktual Dengan Gratitude Journal (Jurnal Kesyukuran)

Gratitude journal yakni sebuah catatan harian yang berisi hal-hal yang menyenangkan dan patut disyukuri oleh seseorang dalam kurun waktu tertentu. Gratitude journal dalam bahasa Indonesia sering diartikan dengan istilah jurnal kesyukuran. Gratitude journal umumnya ditulis dalam bentuk daftar dan esai.

Setiap orang bekerjsama perlu menciptakan gratitude journal. Selain itu gratitude journal berkhasiat untuk catatan faktual bagi setiap orang. Mengingat umumnya insan cenderung berpikir negatif dan kurang bersyukur atas apa yang dianugerahkan kepadanya.

Gratitude journal menjadi alternatif bagi setiap orang semoga senantiasa berpikiran positif. Gratitude journal membantu seseorang untuk fokus pada hal-hal faktual yang menciptakan dirinya senang dan bahagia. Fokus pada hal faktual akan mengesampingkan hal-hal negatif yang telah atau akan terjadi. Gratitude journal pada hasilnya membantu seseorang untuk tidak terjebak pada kesedihan yang berkepanjangan.
Gratitude journal bisa ditulis kapan saja. Tidak ada waktu ideal yang dianjurkan. Hanya saja waktu penulisan gratitude journal disarankan sesuai dengan "mood" untuk menulis. Biasanya gratitude journal seringkali dibentuk sehari sekali untuk mengetahui hal-hal faktual yang patut disyukuri. Sebagai pola ada orang yang suka menulis gratitude journal sebelum tidur. Pertimbangannya semoga ia bisa mensyukuri pencapaian yang diperolehnya hari ini sebelum ditutup dengan istirahat.

Ada juga orang yang tidak suka waktu penulisan sebelum tidur. Biasanya mereka lebih senang memakai penghujung hari untuk eksklusif beristirahat. Oleh karenanya, mereka lebih suka menulis gratitude journal pagi harinya sebelum beraktifitas. Menulis gratitude journal di pagi hari terbukti bisa memunculkan semangat faktual sebelum memulai beraktifitas. Makara waktu penulisan lebih menyesuaikan dengan keadaan masing-masing.

Gratitude journal bisa ditulis di aneka macam macam media penulisan. Bisa memakai secarik kertas, buku atau secara digital. Penulisan gratitude journal secara digital bisa memakai aneka macam aplikasi "gratitude journal" yang ada di playstore. Bisa juga diposting melalui blog atau timeline media umum yang dimiliki. Hanya saja jika menulis di blog atau timeline media umum harus sesuai dengan watak digital. Karena unggahan dalam blog dan media umum sanggup diakses oleh siapa saja.
Gratitude journal yang ditulis memakai pola daftar biasanya dibentuk dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Jawab pertanyaan "Sebutkan minimal tiga hal yang membuatmu senang hari ini?"
2. Tuliskan balasan pertanyaan di atas di media penulisan yang telah dipilih. Biasanya balasan tersebut hanya ditulis dalam bentuk daftar dimana setiap baris hanya berisi satu kalimat.

Gratitude journal bisa juga ditulis dalam bentuk esai. Cara penulisannya adalah:
1. Buat pertanyaan wacana hal apa saja yang perlu disyukuri hari ini.
2. Hal-hal yang perlu disyukuri tersebut kemudian diuraikan dalam bentuk paragraf.
3. Paragraf-paragraf tersebut bisa memuat rentetan tragedi mengapa "hal yang perlu disyukuri" itu terjadi. Atau bisa juga mengenai analisis dan deskripsi lanjutan wacana hal yang patut disyukuri tersebut.

Akhir kata, gratitude journal sanggup membantu setiap orang untuk berpikir positif. Utamanya sebagai pengingat semoga seseorang senantiasa besyukur atas pencapaian yang diraih. Waktu dan bentuk penulisan gratitude journal menyesuaikan keadaan si pembuat. Gratitude journal berbentuk daftar sanggup menjadi pilihan bagi orang yang sibuk. Gratitude journal berbentuk esai sanggup dipilih untuk menceritakan hal-hal yang benar-benar berkesan.

Dibuat sesudah shalat tarawih terakhir di bulan Ramadhan 1440 H, 3 Juni 2019.

Sumber http://rahmahuda.blogspot.com

Thursday, December 27, 2018

√ Kepuasan Dan Ketidakpuasan Di Penghujung Ramadhan

Penghujung Ramadhan seringkali diwarnai perasaan tidak puas. Ketidakpuasan ini timbul lebih alasannya adanya anutan dimana Ramadhan kali ini belum dimaksimalkan untuk bersedekah dan beribadah. Sehingga ketidakpuasan memunculkan perasaan gagal dan serba salah.

Perasaan ibarat di atas bergotong-royong tidak perlu dikembangkan lagi dengan perspektif-perspektif gres yang sifatnya negatif dan destruktif. Perasaan tidak puas, serba salah ibarat di atas tidak pas alasannya sumbernya berasal dari masa lalu. Masa kemudian merupakan sesuatu yang jauh. Apapun yang dilakukan tidak sanggup mengubah masa lalu.

Hal terbaik yang sanggup dilakukan ketika ini yakni bersyukur atas pencapaian amal dan ibadah selama ramadhan lalu. Bersyukur berarti memuji Tuhan atas apa yang telah dianugerahkan kepada kita. Caranya dengan mengingat pencapaian kemudian mengucapkan kalimat "hamdalah" dengan penuh kesadaran.

Sebuah Contoh
Ingatan terhadap hal kasatmata menciptakan seseorang mengesampingkan kejadian-kejadian yang tidak diinginkan. Kejadian yang tidak diinginkan selama ramadhan sanggup berbentuk "dianggap" jarang tarawih, baca al-quran; kendaraan macet di tengah jalanan pegunungan alasannya kampas kopling habis; bahkan sakit hingga tiga kali dan berujung puasa bolong.

Semua itu hendaknya ditutup dengan kesyukuran atas apa yang telah dilakukan. Selama Ramadhan ini sanggup saja seseorang tidak pernah membolos kuliah, mendapat kesempatan walau sekali menjadi pembicara kultum tarawih di masjid DU; kultum jelang buka puasa di masjid Pemuda bersama lazismu; ikut tasyaruf Lazismu di Candirejo, Wringinputih dan SDM; menuntaskan beberapa hutang keuangan; menjalin silaturahmi intens dengan beberapa pihak.

Yah contoh-contoh di atas, tentu sangat patut disyukuri. Karena jika tanpa daya dan upaya dari Gusti Allah, tentu satupun tidak sanggup terlaksana. Oleh jadinya tidak ada kalimat yang lebih indah selain Alhamdulillah  untuk menutup ramadhan kali ini dengan tetap berharap biar sanggup dipertemukan dengan ramadhan-ramadhan selanjutnya.

Akhirnya, Ramadhan sanggup disikapi sebagai madrasah/ sekolah untuk mempersiapkan diri bersedekah di bulan-bulan selanjutnya. Menurut irit penulis lebih baik di bulan-bulan sehabis Ramadhan amal kebaikan secara konsisten meningkat. Daripada hanya bersedekah di bulan Ramadhan saja dan bulan-bulan selanjutnya malah "nglokro."

Ditulis di hari terakhir Ramadhan 1440 H sambil menunggu antrian tukang cukur, Selasa, 4 Juni 2019.

Sumber http://rahmahuda.blogspot.com

√ Alumni Mbs Jogja Kuliah Di Sudan

Banyak hal yang sanggup disyukuri setiap harinya. Salah satunya mendengar seorang anak tetangga yang akan melanjutkan studi S-1 di Sudan. Saya kira beliau akan menjadi orang pertama di RT 02 (RT daerah aku tinggal) yang melanjutkan kuliah ke luar negeri.

Ceritanya anak tetangga ini beberapa tahun yang kemudian lulus dari Muhammadiyah Boarding School Yogyakarta (MBS Jogja). Kemudian melanjutkan di pondok pesantren di Jawa Barat yang kurikulum dan bahasa pengantarnya ialah Bahasa Arab. Namun sebab suatu hal ia pulang ke Jogja dan menerima kesempatan kuliah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta eksklusif di semester 4. Namun kuliahnya di UMY ini terpaksa cuti sebab ada kesempatan kuliah S-1 di Sudan.
Kesempatan kuliah di Sudan diperolehnya tahun ini. Peluang bagi alumni dan siswa MBS Jogja untuk kuliah di Sudan cukup besar sebab adanya kerjasama di antara dua pihak tersebut. MBS menerima kuota 30 siswa untuk kuliah di Sudan. Namun hanya ada 12 siswa yang memenuhi syarat.

Siswa-siswa tersebut keberangkatannya ditanggung Lazismu. Biaya kuliah di Sudan pun sudah terjamin. Bahkan mereka disana akan ditampung oleh Pimpinan Cabang spesial Muhammadiyah Sudan.

Intinya, kisah ini memperlihatkan ide bahwa untuk sekolah di luar negeri di kala kini sangat terbuka lebar. Banyak beasiswa yang sanggup diakses. Terutama oleh sekolah-sekolah yang bekerja sama dengan luar negeri. Namun yang paling penting ialah penguasaan bahasa asing.

Cerita ini aku peroleh dari ayah si anak saat malam takbiran 1440 H, Selasa, 4 Juni 2019

Sumber http://rahmahuda.blogspot.com

Wednesday, December 26, 2018

√ Kisah Lulus Cpns Dosen Uin Sunan Kalijaga Yogyakarta

Lebaran identik dengan kunjungan keluarga. Kunjungan di rumah-rumah keluarga yang dituakan merupakan tradisi yang positif. Aktivitas berkunjung biasa dipakai untuk saling bertukar kabar. Kali ini saya berkunjung ke salah satu saudara. Dia gres saja diterima menjadi dosen CPNS di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dia bercerita banyak hal perihal perjuangannya mencapai titik ini. Suatu saat ia pernah mengikuti job fair dan pribadi diterima sebagai pegawai salah satu bank BUMN. Seiring berjalannya waktu, gres diketahui jikalau ia menjadi serpihan dari anak perusahaan bank tersebut, yaitu B** Insuranse. Pekerjaan pertama itu malah menciptakan ibunya menangis. Bagaimana tidak, saudara saya ini harus membayar ke perusahaan sebesar 150 ribu setiap kali mendapat nasabah. Selain itu model penggajiannya sangat ditentukan oleh sasaran nasabah yang diperoleh. Model pekerjaan yang malah mengeluarkan uang ibarat ini menciptakan budhe saya (ibu dari saudara saya) tidak rela. Bekerja itu harusnya dibayar kok malah membayar. Ini kerja apa dikerjain. Pola kerja yang tidak biasa membuatnya bekerja di bidang lain. Saudara saya rela bekerja di bank milik pemerintah tempat yang hanya mensyaratkan kualifikasi S-1. Padahal pendidikan terakhirnya S-2.
Rencana Tuhan
Alhamdulillah usahanya berpindah-pindah pekerjaan dan bekerja tidak sesuai bidangnya berakhir indah. Kini ia menjadi dosen di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta sesudah mengikuti tes CPNS tahun 2019. Bahkan sekarang sudah menikah dengan seorang dokter yang juga keterima CPNS di salah satu kabupaten di Jawa Tengah.


Tes CPNS yang dimana ia lulus merupakan tes CPNS kedua yang ia ikuti. Pada tes yang pertama tidak lulus sebab nilai hasilnya hanya berada di peringkat ketiga. Satu tingkat di bawah deretan yang dibutuhkan. Padahal jikalau nilainya sedikit lebih tinggi ia dapat menjadi salah satu dari dua orang yang kala itu lulus tes CPNS.


Hikmah dari dongeng ini yakni dibutuhkan kesabaran dan kegigihan untuk memperoleh pekerjaan yang diharapkan. Kesabaran dalam menghadapi kegagalan dan mau menikmati pekerjaan lain sambil menunggu kesempatan. Selain itu dibutuhkan kegigihan untuk senantiasa mencar ilmu dalam rangka mempersiapkan diri mengikuti tes seleksi pekerjaan yang diidam-idamkan. Sabtu, 8 Juni 2019

Sumber http://rahmahuda.blogspot.com